Please wait... X

Berita DPLN PDI Perjuangan Belanda Sukses Menggelar Webinar “Pancasila Bagi Diaspora Indonesia di Abad 21”

PDI Perjuangan, 30/Jun/2020

DPLN PDI Perjuangan Belanda Sukses Menggelar Webinar “Pancasila Bagi Diaspora Indonesia di Abad 21”

Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) PDI Perjuangan Belanda sukses menggelar webinar bertema "Pancasila bagi Diaspora Indonesia di Abad 21". Acara yang diselenggarakan pada hari Jumat, 19 Juni 2020 pukul 19.00 CEST waktu setempat atau 24.00 WIB tersebut digelar untuk memperingati hari lahir Pancasila 1 Juni 2020 dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara di benua Amerika, Eropa, dan Asia.

 

Acara dimoderatori Ketua DPLN PDI Perjuangan Belanda, Latif Gau dan dibuka oleh Dutabesar RI untuk Kerajaan Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja. Dubes Puja dalam sambutan mengingatkan arti penting Pancasila sebagai weltanschauung atau pandangan hidup dan ideologi bangsa yang telah teruji dan sukses menyatukan bangsa Indonesia di tengah segala macam keragaman yang ada dan berbagai macam gempuran ideologi lain yang masuk. Demikian siaran pers yang dikeluarkan DPLN PDI Perjuangan Belanda di Eindhoven pada Minggu (21/6/2020).

 

“Kami mengharapkan peran aktif diaspora Indonesia dalam memperkuat Pancasila khususnya pada sila ketiga Persatuan Indonesia yang saat ini tengah mengalami ujian,” kata Dubes Puja.

 

Dua orang Duta Besar RI yaitu Arif Havas Oegroseno, Dutabesar RI untuk Republik Federasi Jerman dan Cheppy T. Wartono Dutabesar RI untuk Mexico, Belize dan El Salvador menjadi narasumber dalam webinar ini.

 

Dubes Havas memaparkan secara kritis peta geopolitik global terkini antara dua super power dunia Amerika dan China. Keduanya bertarung memperebutkan pengaruh di kawasan sehingga berdampak bagi perkembangan situasi politik di tanah air. Ketakutan publik di tanah air bahwa kekuatan ekonomi Cina juga akan berdampak pada menguatnya paham komunisme juga ditengarai oleh Dubes Havas, yang lebih memilih istilah state capitalism sebagai paham yang akan mempengaruhi perkembangan ideologi di tanah air.

 

Dubes Havas juga melihat menguatnya paham atheist fundamentalism atau sekular ekstrimism di Eropa sebagai perkembangan yang menarik dalam peta geopolitik global saat ini yang mungkin pula dapat mempengaruhi para diaspora Indonesia di Eropa.

 

“Saya menyarankan para diaspora Indonesia untuk rajin menulis opini dan mengirimkannya ke tanah air, agar meyakinkan publik di tanah air arti penting ideologi Pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa. Pancasila dapat berperan sebagai ideologi dunia yang saat ini tengah menuju ke periode world disorder,” saran Dubes Havas pada akhir pemaparan.

 

Sementara Cheppy T. Wartono Dutabesar RI untuk Mexico, Belize, dan El Salvador, yang juga politisi PDI Perjuangan, menyampaikan perjalanan Pancasila dari masa ke masa. Menurut Cheppy, pada masa Sukarno Pancasila sempat ditawarkan sebagai ideologi alternatif kepada dunia yang tengah terbelah menjadi dua kutub, kutub Amerika dan kutub Uni Soviet. Pada masa orde baru dulu, penguasa politik saat itu telah menggunakan Pancasila sebagai alat penopang kekuasaan, sementara nilai-nilai Pancasila tidak dilaksanakan dengan konsisten seperti korupsi, penghilangan paksa, pembreidelan media dan lain-lain.

 

“Kegagalan para pemimpin politik saat itu untuk memberikan teladan moral sesuai nilai-nilai Pancasila telah mengakibatkan tumbuh suburnya paham-paham radikal anti Pancasila pada masa pasca orde baru saat ini. Diaspora Indonesia bisa menjadi ujung tombak sosialisasi Pancasila, menyebarkan nilai-nilai Pancasila agar menjadi contoh bagaimana hidup bertoleransi di mata dunia,” ujar Dubes Cheppy.

 

Dalam sesi tanya jawab, Duta Besar RI untuk Ekuador, Diennaryati Tjokrosuprihatono, yang turut hadir dalam webinar menyampaikan kisah menarik bagaimana bangsa Ekuador sangat menghargai masyarakat Indonesia yang tinggal disana dalam bertoleransi, membantu sesama, terbuka. Kisah tersebut adalah pelaksanaan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila. Banyak peserta dari Indonesia yang juga menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada para narasumber.

 

Demikian juga diaspora Indonesia yang tinggal di Eropa menyampaikan usulan agar KBRI-KBRI turut aktif dalam membumikan nilai-nilai Pancasila bagi para milenial, seperti mengadakan bulan Pancasila setiap tahun melalui acara-acara kreatif yang dapat diikuti oleh para milenial.

Instagram

Twitter

Facebook