Please wait... X

Pidato_Ketua_Umum Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada Pembukaan HUT 47 Tahun dan Rakernas I

PDI Perjuangan, 26/Mar/2020

Pidato Politik Ketua Umum PDI Perjuangan pada Pembukaan HUT 47 Tahun dan Rakernas I

Solid Bergerak:

 

Wujudkan Indonesia Negara Industri Berbasis Riset dan Inovasi Nasional

Sub Tema Strategi Jalur Rempah dalam Lima Prioritas Industri Nasional untuk Mewujudkan Indonesia Berdikari

 

Megawati Soekarnoputri

Ketua Umum PDI Perjuangan

Jakarta, 10 Januari 2020

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera, salom

Namo Buddhaya,

Om Swastiastu,

Yang terhormat,

1. Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo

2. Wakil Presiden, KH. Ma’aruf Amin

3. Pimpinan Lembaga Negara

4. Para Menteri Kabinet Indonesia Maju

5. Pimpinan Partai Politik

6. Para tamu undangan

7. …..

8. ….

9. Rekan-rekan media

 

Yang saya cintai dan banggakan,

Kader-kader PDI Perjuangan, peserta Rakernas Pertama PDI Perjuangan, Perwakilan DPD, DPC, Badan-badan Partai, Legislatif, Sayap Partai dan Perwakilan DPLN

Rakyat Indonesia, dimana pun berada

Terimalah salam perjuangan kita: merdeka! Merdeka!, Merdeka!

 

Hadirin yang saya hormati,

Sungguh perjalanan politik yang luar biasa yang telah saya tempuh. Saya memilih berpolitik dengan membangun partai politik, bernama PDI Perjuangan. Hari ini, 10 Januari 2020, Partai yang saya bangun mencapai usia 47 tahun. Kegembiraan, kepedihan, kemajuan-kemajuan, harapan-harapan, kekecewaan-kekecewaan, rasa unggul, rasa pahit, rasa getir, rasa manis, rasa cemas, rasa letih, rasa babak bundas, semua sudah kita alami.

 

Setelah PDI Perjuangan berturut-turut menang dalam dua kali Pemilu, 2014 dan 2019, pertanyaan yang selalu menghentak dalam dada saya, inikah makna sesungguhnya kemenangan politik. Jika sudah menang Pemilu, lalu mau apa? Apakah menang Pemilu, berupa kemenangan elektoral, jadi tujuan akhir bagi Partai? Kegelisahan-kegelisahan tersebut merundung saya.

 

Beberapa hari ini saya merenung. Saya mencoba menggali kembali lembar-lembar perjalanan kehidupan politik yang telah saya lewati. Perenungan spiritual itu mengantarkan saya pada kotak pandora ingatan, kotak yang berisi cita-cita dan gagasan politik seorang lelaki, yang saya panggil Bapak. Bapak yang telah menempa saya sejak kecil untuk hidup di jalan pengabdian kepada tanah air dan bangsa. Bapak mengatakan, “Saya memohon kepada Allah Subhanahu Wata’ala, tetapkanlah kecintaanku kepada tanah air dan bangsa, selalu menyala-nyala di dalam saya punya dada, sampai terbawa masuk ke dalam kubur saat Allah memanggilku pulang.” (Di Bawah Bendera Revolusi, 1941).

 

Itulah doa Bapak, ayah saya, yang biasa dipanggil oleh rakyat Indonesia dengan sebutan Bung Karno. Doa Bapak selalu menuntun saya saat saya merasa gamang atau hampir kehilangan asa dalam pertarungan politik. Doa Bung Karno selalu mampu menuntun saya kembali ke niat awal, mengapa saya sebagai seorang perempuan dan seorang Ibu, memutuskan membangun partai politik. Niat itu berupa keyakinan terhadap ideologi Pancasila. Keyakinan yang membentuk pemahaman bahwa ideologi bukan sesuatu yang utopis, bukan suatu gagasan yang tidak membumi. Keyakinan yang menjadi penyulut semangat bahwa Pancasila harus diperjuangkan agar berwujud dalam merdeka penuh, makmur penuh, adil penuh, sejahtera penuh bagi seluruh rakyat Indonesia, bangsa Indonesia yang menyumbang damai penuh bagi dunia.

Kader-kaderku di seluruh tanah air,

 

Tema Ulang Tahun PDI Perjuangan ke-47 Tahun dan Rapat Kerja Nasional PDI Perjuangan kali ini adalah Solid Bergerak: Wujudkan Indonesia Negara Industri Berbasis Riset dan Inovasi Nasional dan Sub Tema Strategi Jalur Rempah dalam Lima Prioritas Industri Nasional untuk Mewujudkan Indonesia Berdikari. Tema dan sub tema tersebut saya putuskan sebagai simbol babak baru bagi perjuangan dan strategi Partai. Di usia 47 tahun, sudah waktunya kristalisasi ideologi dalam suatu gerakan konkret. PDI Perjuangan adalah partai politik. Otokritik harus berani kita lakukan. PDI Perjuangan adalah partai yang menganut ideologi Pancasila. Mengaku berideologi Pancasila memiliki konsekuensi logis yang harus dijalankan. Seluruh kader partai, khususnya Tiga Pilar Partai, yaitu kader yang ditugaskan di struktur partai, legislatif dan eksekutif harus punya TIGA SADAR, yaitu:

 

pertama sadar bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara hukum, dibangun di atas aturan hukum. Seluruh keputusan politik yang menyangkut tata kehidupan berbangsa dan bernegara harus konkret berpijak pada produk politik hukum, yaitu undang-undang dan perundang-undangan, yang bersumber pada Pancasila.

Kedua, sadar bahwa karena PDI Perjuangan adalah partai politik, maka seluruh gerak langkahnya harus gerak langkah politik yang menghasilkan politik hukum berwatak Pancasila. Politisi banteng jangan sibuk berwacana dan membangun citra politik, tanpa keputusan politik konkret yang berpihak pada perbaikan kehidupan rakyat dan berorientasi pada kepentingan nasional.

Ketiga, sadar bahwa menang secara politik bukan sekadar menang elektoral pada Pemilu. Menang bagi PDI Perjuangan adalah mampu memperjuangkan lahirnya kebijakan politik pembangunan di segala bidang kehidupan, pembangunan di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan pembangunan bidang mental dan spiritual. Politik pembangunan yang dimaksud harus berlandaskan pada riset ilmu pengetahuan dan teknologi nasional, yang berpedoman pada haluan ideologi Pancasila. Politik pembangunan yang demikian itu harus menghasilkan politik legislasi, politik anggaran dan politik pengawasan yang menyatu dalam Pola Pembangunan Berdikari. Pembangunan yang membawa Indonesia menjadi bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.

 

Saudara-saudara,

Tiga sadar telah memiliki payung hukum positif. Kita berhasil memperjuangkan lahirnya suatu undang-undang yang sangat penting bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia. Saya mengawal betul pembahasannya di DPR. Pada 13 Agustus 2019 undang-undang tersebut ditandatangani oleh Presiden Jokowi, yaitu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Undang-Undang ini menghidupkan kembali suatu konsepsi politik pembangunan yang digagas oleh Bung Karno. Secara tegas tertuang tiga prinsip gagasan Bung Karno dalam UU Nomor 11 Tahun 2019, gagasan pertama, kebijakan pembangunan harus berlandaskan pada riset dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi, yang berpedoman pada haluan ideologi Pancasila. Artinya, Pancasila wajib diimplementasikan dalam kebijakan pembangunan di segala bidang, yang terencana, terukur, terarah berbasis pada riset kebutuhan riil rakyat, kondisi obyektif dan potensi ekonomi bangsa yang dikelola dengan bijak dan tepat guna, dengan melibatkan seluruh kekuatan bangsa.

 

Gagasan Bung Karno kedua, yaitu pembentukan badan riset dan inovasi nasional yang bertugas untuk melakukan dan mengintegrasikan riset agar pembangunan berjalan efektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ideologis, etis dan ilmiah. Oleh karena itu, organisasi kedeputian badan riset dan inovasi sudah saatnya seperti juga di negara-negara lain, berorientasi pada bidang ilmu pengetahuan, bukan operasional birokrasi. Riset ilmu pengetahuan tersebut saya usulkan menampung empat rumpun keilmuan yang menyangkut manusia, hewan, tumbuhan dan teknologi. Jika hal ini dapat kita wujudkan maka, Indonesia tidak lagi terjebak pada pemikiran riset untuk pembangunan ilmu pengetahuan saja, tetapi kita sudah masuk pada paradigma riset ilmu pengetahuan untuk pembangunan, science based policy, science for better life, science for humanity and world peace.

Gagasan Bung Karno ketiga, kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya terkait riset dan inovasi dengan bangsa lain, harus menghasilkan alih teknologi bagi kemajuan bangsa dan berpedoman pada prinsip politik luar negeri bebas aktif. Prinsip ini jelas tidak bisa diabaikan terutama dalam pergaulan antar bangsa di era globalisasi. Prinsip bebas aktif ini, juga kita tujukan kepada persahabatan dengan semua bangsa, sesuai dengan ajaran Pancasila, yakni perdamaian dunia.

 

Bebas aktif, bukan berarti mengambil sikap netral atau jadi penonton terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini. Bebas, bukan berarti tidak punya pendirian, bukan berarti pula “cuci tangan”, bukan berarti defensif atau apologetis. Kita aktif, kita berprinsip, kita berpendirian. Prinsip kita, kita tegaskan pada dunia adalah Pancasila. Pendirian kita adalah aktif menuju perdamaian dan kesejahteraan dunia. Aktif pada persahabatan segala bangsa, aktif dalam memperjuangkan lenyapnya penindasan kepada bangsa mana pun. Pendirian bebas aktif tersebut secara aktif pula harus dicerminkan dalam hubungan ekonomi dengan luar negeri, yang lagi-lagi dimulai dari riset nasional kita.

 

Saudara-saudara,

Prinsip politik luar negeri bebas aktif ini saya yakini dipegang teguh oleh Presiden Jokowi. Hal ini dibuktikan dengan sikap tegas Presiden Jokowi dalam menangani konflik di perairan Natuna. Saya mendukung penuh sikap politik Presiden Jokowi, yang menyatakan bahwa persoalan kedaulatan bukan hal yang dapat dinegosiasikan. Prinsip yang sama, saya yakin juga menjadi pertimbangan utama Presiden Jokowi dalam membentuk badan riset dan inovasi nasional.

 

Saudara-saudara,

Kita seringkali abai, menganggap bahwa urusan riset tidak ada kaitannya dengan kedaulatan. Padahal di era globalisasi, pertarungan menjaga kedaulatan bangsa dan negara, tidak dapat hanya dimaknai sebagai pertarungan menjaga kedaulatan teritorial. Dominasi pihak luar terhadap suatu bangsa dapat dimulai dari riset pembangunan yang dikendalikan oleh bangsa lain. Bagaimana suatu bangsa dapat berdaulat, jika kebijakan pembangunan di segala bidang kehidupan mengikuti hasil riset yang tidak dilakukan oleh bangsa itu sendiri.

 

Saya selalu menggelorakan perdamaian dan persahabatan antar bangsa sebagai perjuangan universal. Saya percaya, tidak ada satu bangsa pun di muka bumi ini, yang menyatakan diri sebagai bangsa merdeka, mau didikte oleh bangsa lain. Kerjasama dalam semangat keadilan dan kesejahteraan dunia, seribu persen saya sepakat! Tetapi, kerjasama yang bermotif dominasi terhadap bangsa lain, seribu persen saya tentang. Saya percaya, dalam hal ini Presiden Jokowi, beserta jajaran kabinetnya, ada dalam spirit perjuangan yang sama.

 

Saudara-saudara,

Hal-hal yang saya sampaikan di atas, bukan gagasan dari luar, tetapi merupakan sari pati dari nilai-nilai Pancasila. Karena telah termuat dalam produk politik hukum bernama undang-undang, artinya sahih dan sah secara hukum positif yang berlaku di tanah air. Setiap orang wajib menjalankan hukum, tanpa terkecuali. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 telah mematrikan bahwa riset adalah awal dari pembangunan itu sendiri. Artinya, riset pembangunan suatu negara adalah kunci kedaulatan, termasuk dalam pembangunan bidang pertahanan dan keamanan. Riset yang berdaulat, merupakan hal fundamental dalam menjalankan roda pembangunan menuju negara industri maju, negara yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Riset adalah langkah awal bagi suatu bangsa, untuk menjadi bangsa yang tidak hanya merdeka, tetapi juga berdaulat.

 

Kader-kader PDI Perjuangan,

Dalam Rapat Kerja Nasional Pertama yang akan segera kita lakukan, rumuskanlah langkah dan strategi politik Partai. Rumuskan strategi tata kelola partai agar PDI Perjuangan sungguh-sungguh menjadi partai pelopor, yang mampu wujudkan pokok-pokok perjuangan yang saya sampaikan di atas. Berjuanglah untuk menjadikan PDI perjuangan sebagai partai pelopor, partai yang solid dengan LIMA DISIPLIN: yaitu satu, disiplin ideologi; dua, disiplin teori dan pemikiran; tiga, disiplin organisasi; empat, disiplin tindakan; dan lima, disiplin gerakan!

Anak-anakku, kemenangan elektoral harus dipastikan buah dari kerja politik konkret bagi rakyat, bangsa dan negara. Jangan berpolitik dengan cara-cara pragmatis. Jangan menjadi politisi populis yang hanya sibuk mengobok-obok emosi rakyat, tapi di sisi lain tak ada keputusan politik nyata bagi rakyat. Saatnya kita bekerja sungguh-sungguh untuk rakyat, bangsa dan negara. Sekali lagi, stop berwacana politik! Rumuskan poltik legislasi, politik anggaran, politik pengawasan yang menjadi prioritas perjuangan kita. Rumuskan pembangunan Lima Prioritas Industri Nasional untuk Mewujudkan Indonesia Berdikari yang PDI Perjuangan akan rekomendasikan. Pembangunan industri tersebut harus dipastikan sebagai upaya untuk pemenuhan kesejahteraan rakyat.

 

Tiga pilar partai PDI Perjuangan, rumuskanlah lima prioritas pembangunan bidang kesejahteraan rakyat untuk memenuhi cita-cita rakyat Indonesia, seperti yang digambarkan oleh Bung Karno:

Di dalam masyarakat yang demikian itu, kita akan cukup sandang dan cukup pangan.

Di dalam masyarakat yang demikian itu, anak-anak kita tak lagi menderita.

Di dalam masyarakat yang demikian itu, kita tak lagi basah jikalau hujan turun, dan tak lagi kepanasan jikalau matahari terik.

Di dalam masyarakat yang demikian itu, kita mudah sekali bergerak dari suatu tempat ke tempat lain.

Di dalam masyarakat yang demikian itu, kita akan hidup bahagia menurut cita-cita orang tua jaman dahulu, tata tentrem kerta raharja.

 

Kader-kader PDI Perjuangan di seluruh tanah air,

Penuhi jiwa ragamu dengan semangat untuk mewujudkan cita-cita rakyat tersebut. Jangan punggungi rakyat, jangan berhitung untung rugi dari kerja politik, jangan mencari keuntungan pribadi atau kelompok dari tugas ideologis ini. Pidato politik ini adalah instruksi bagi seluruh kader PDI Perjuangan. Saya tidak akan melindungi kader yang tidak taat terhadap instruksi Partai. Saya akan menggebrak kalian berkali-kali agar sadar terhadap tugas ideologis kita. Jika tidak siap, silakan kalian pergi. Siap atau tidak? Berani atau tidak jalankan perjuangan ini?

Kader-kader partai yang saya banggakan,

47 tahun, bukan perjalanan singkat bagi suatu partai politik. Setiap hari kita telah digembleng oleh keadaan. Digembleng, hampir hancur lebur. Bangun kembali! Digembleng, hampir hancur lebur. Bangun kembali! Jatuh, bangkit lagi! Jatuh, bangkit lagi! Jadilah banteng-banteng otot kawat balung besi!

 

Solid bergerak! Total, berjuang total, total kerahkan segenap kemampuanmu. Jangan setengah-setengah berjuang, jangan ragu memperjuangkan nasib rakyat. Rakyat tidak pernah ragu memilih kita. Rakyat tidak pernah ragu mempercayakan, menitipkan harapan mereka di pundak kita. Tidak ada yang perlu ditakuti. Ada Bung Karno bersama kita. Ada doa rakyat bersama perjuangan kita.

 

Dirgahayu PDI Perjuangan yang ke-47 tahun!

Solid bergerak wujudkan Indonesia negara industri maju berbasis riset dan inovasi nasional!

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Instagram

Twitter

Facebook