Please wait... X

Berita Topping Off Kantor Baru DPD PDI Perjuangan Yogyakarta, Hasto: Kantor Partai Rumah Kebudayaan Rakyat

PDI Perjuangan, 21/Feb/2019

Topping Off Kantor Baru DPD PDI Perjuangan Yogyakarta, Hasto: Kantor Partai Rumah Kebudayaan Rakyat

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto memimpin pelaksanaan tutup atap (topping off) kantor DPD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan didahului dengan upacara selametan adat Jawa. Kantor DPD PDI Perjuangan Yogyakarta berkonsep green building tersebut diniatkan menjadi rumah kebudayaan rakyat.

Hasto hadir mewakili DPP PDI Perjuangan, ditemani Ketua DPD PDI Perjuangan Yogyakarta Bambang Praswanto, Anggota DPR RI Lazarus yang bertugas mengawasi pengerjaan gedung, serta Nuryadi, Anggota DPRD DIY yang bertugas sebagai tim. Puluhan pengurus Partai dan Satuan Tugas (Satgas) PDI Perjuangan turut menghadiri kantor yang berlokasi di Jalan Tentara Rakyat Mataram, Yogyakarta.

Upacara syukuran atau selametan dipimpin oleh Romo Hanung. Sejumlah makanan khas Yogyakarta sebagai wujud selametan juga dihidangkan serta didoakan.

Hasto mengatakan upacara selametan merupakan wujud doa agar niat baik pembangunan gedung kantor berlantai lima tersebut bisa berjalan lancar dan selalu berada dalam keseimbangan.

Kantor Partai dirancang dengan nuansa khas Yogyakarta. Ornamen batik dan gamelan akan menghiasi ruangan-ruangan gedung tersebut. Nantinya masyarakat boleh menggunakannya untuk latihan tari, pertunjukan seni, hingga berbagai acara tradisi lainnya.

Mengingat kecintaan pada lingkungan yang selalu dikobarkan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, maka di lantai dasar dan bagian tengah gedung akan menjadi taman.

"Lantai satu ini melambangkan sikap orang Yogya yang terbuka. Makanya ini nanti jadi rumah rakyat. Bangunannya juga mencerminkan hal itu, ditambahkan perhatian Ibu Mega atas lingkungan, di tengah ini nanti ada taman," kata Hasto Kristiyanto, Rabu (20/2/2019).

Menurut Hasto gedung kantor sengaja dibangun dengan semangat tradisi kebudayaan Jawa. Tradisi Jawa mengenal kata-kata mutiara 'Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake. Sekti Tanpo Aji, Sugih Tanpo Bondho'. Arti harfiahnya 'menyerbu tanpa bala tentara, menang tanpa merendahkan, sakti tanpa aji-aji dan kaya tanpa harta'.

"Mengingat terus kebijaksanaan budaya seperti ini akan terus penting. Lihat saja sekarang ini dimana orang bersaing gila-gilaan hanya demi kekuasaan. Harusnya hidup tenteram lahir batin yang digelorakan. Dan itu jawabannya ada pada kebudayaan," jelas Hasto.

Selain itu, gedung yang mulai dibangun sejak November tahun lalu itu berbasis semangat Yogyakarta sebagai kota revolusi. "Yogyakarta ini Kota Revolusi. Bung Karno, ketika ibukota Jakarta dalam kondisi darurat, memindahkan ke Yogyakarta. Saat itu, Sultan Hamengkubuwono IX dan bantuan keraton sangat luar biasa," ujarnya.

Ketua Umum Megawati Soekarnoputri juga dilahirkan di Yogyakarta. Sehingga membangun sebuah kantor yang besarnya hampir setara kantor DPP di Jalan Diponegoro, Jakarta, menjadi lebih bermakna.

"Kantor ini kami persembahkan buat Ibu Megawati Soekarnoputri. Beliau lahir di Yogja, ari-arinya ada di Yogja. Kantor ini sekaligus simbolisasi, partai sebagai pusat pengembangan kebudayaan bisa dilakukan," ujarnya.

"Dari sini kita pelopori kantor Partai sebagai pusat kebudayaan. Dia jadi pusat kegiatan rakyat, tari, mocopatan, kumpul. Ini yang kami harapkan.Terima kasih atas doanya," tambahnya.

Sementara Ketua DPD PDI Perjuangan Yogyakarta Bambang Praswanto mengatakan, gedung itu terdiri dari lima lantai, seperti lima sila Pancasila. Lantai dasar tidak dipagar agar mudah diakses masyarakat umum. Di sana dibangun fasilitas musholla dan gamelan.

Lantai 2 akan dijadikan perkantoran, sementara lantai 3 untuk fasilitas olahraga serta kesenian. Gedung paling atas akan ada aula untuk menampung sekira 500 tamu. Bisa dipakai masyarakat untuk pengajian, mantenan, dan acara khitanan.

Didesain agar pengunjung menaikinya dengan tangga manual sehingga bisa berolahraga. Namun buat yang benar-benar tak bisa, tetap disediakan lift khusus.

"Ini gedung didesain hemat air, listrik, dan limbah keluar tak terlalu banyak. Kalau dipakai masyarakat sifatnya gratis. Jadi tidak mencari untung. Cuma untuk air dan listrik saja. Kami ingin gedung ini dimanfaatkan untuk rakyat," kata Bambang Praswanto.

Instagram

Twitter

Facebook