Please wait... X

Berita PDI Perjuangan Konsisten Promosikan Kekayaan Kuliner Lokal

PDI Perjuangan, 22/Nov/2018

PDI Perjuangan Konsisten Promosikan Kekayaan Kuliner Lokal

PDI Perjuangan memiliki tradisi unik setiap kunjungan konsolidasi ke daerah. Yakni mendatangi kuliner rakyat sekaligus mempromosikan makanan Indonesia yang terkenal kaya dengan aneka bumbu serta cita rasa.

Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto juga melakukan tradisi tersebut dengan memilih sarapan di Warung Rampal di Jalan Soedirman 17a, Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (20/11). Hasto bersama Ketua DPP Bidang Keanggotaan dan Organisasi Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPP Bidang Kesehatan dan Anak, Sri Rahayu, serta Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Sri Untari, berkunjung ke Malang Raya untuk konsolidasi sekaligus berziarah ke Makam Bung Karno ke Blitar, Jawa Timur.

"Kami sengaja mendatangi Warung Rawon dan Soto Rampal di Kota Malang ini. Rawon ini menjadi salah satu kegemaran Presiden Jokowi. Saya tadi makan rawon. Perpaduan bumbu kluwak, bawang, berambang, jahe, tumbar, kemiri, dan lain-lain. Pantas bila menjadi menu andalan wisata kuliner di Kota Malang," ujar Hasto.

Hasto mengatakan apa yang dilakukan PDI Perjuangan tidak terlepas dari tradisi yang dimulai oleh Bung Karno. Ketika Konferensi Asia Afrika diadakan tahun 1955, aneka masakan khas Indonesia disajikan kepada para delegasi.

Menunya, seperti rujak cingur, soto ayam, karedok, ayam goreng, getuk lindri, dan lain-lain. Kata Hasto, semua ditampilkan dengan penuh kebanggaan karena komitmen ideologis.

"Bahwa dari lidah dan perut rakyat Indonesia tidak boleh terjajah oleh makanan impor," katanya.

Ketua Umum Megawati Soekarnoputri pun memiliki perhatian yang sangat besar terhadap kuliner Nusantara. Menurut Hasto, Megawati selalu mengumpulkan resep makanan Indonesia. Tidak hanya itu, seluruh tanaman bumbu-bumbuan Nusantara juga ditanam dan dikembangkan oleh Megawati. 

"Maka itu Indonesia harus bangga karena kekayaan bumbu-bumbu masakannya paling lengkap sedunia," jelasnya.

Pemilik Warung, Ninik Wahyuni mengaku tempatnya itu berdiri sejak 1957. Diakuinya, warungnya makin terkenal setelah didatangi Presiden Jokowi. Orang-orang menyebut warungnya sebagai 'Warung Presiden'. Kedatangan Presiden Jokowi itu pada 17 April 2017.

"Senang banget waktu Pak Jokowi datang. Kagetlah. Sama seperti ini Pak Hasto dan Pak Djarot datang," kata Ninik. 

Ketika ditanya soal adanya kelompok politisi yang menyebut bisnis kecil makin susah karena harga barang-barang naik, Ninik mengaku bisnisnya lancar-lancar saja. Pengunjung tetap ramai mendatangi warungnya. 

"Kalau dibilang harga mahal atau tidak itu kan tergantung. Harga barang wajar lebih mahal. Karena UMR kan juga naik. Ya harga boleh naik juga dong. Bagi kami yang penting itu bahan baku masih tersedia dan kita masih bisa beli," ujar Ninik.

Instagram

Twitter

Facebook