Please wait... X

Berita BUNG KARNO: Proklamator, Bapak Bangsa dan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

PDI Perjuangan, 22/Jun/2018

BUNG KARNO: Proklamator, Bapak Bangsa dan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak mampu membendung air mata ketika memberi kata sambutan peringatan Haul Bung Karno ke 48 di Blitar Jawa Timur, Rabu (20/6/208). Megawati terharu melihat antusiasme warga Nahdlatul Ulama (NU) dan Soekarnois larut memperingati Bung Karno.

"Saya sungguh terharu melihat antusiasme rakyat yang secara sadar dan tulus telah menempatkan Bung Karno benar-benar di hati sanubarinya," kata Megawati terbata-bata.

Megawati mengatakan, Bung Karno dikenal dekat dengan para tokoh NU antara lain KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Wahid Hasyim. Oleh sebab itu, Megawati tak heran melihat banyaknya warga NU yang sangat mencintai Bung Karno.

"Untuk itulah tradisi Haul Bung Karno menjadi sebuah tradisi kultural dan keagamaan. Artinya menjaga tradisi Keindonesiaan kita," ujar Megawati.

Warga NU mencintai Bung Karno karena melihat dan merasakan bagaimana dedikasinya bagi bangsa dan negara, baik dalam pemikiran maupun karya perjuangan. Dia pun mengucapkan terima kasih karena warga NU yang telah rutin menjalankan tradisi peringatan hari wafat Bung Karno.

"Tidak heran rakyat Indonesia menyebut beliau sebagai Proklamator, Bapak Bangsa dan juga sering disebut sebagai Penyambung Lidah Rakyat Indonesia," ucap Megawati.

Untuk mengetahui isi pidato yang disampaikan oleh Megawati dalam memperingati Haul Bung Karno ke 48, silakan simak tulisan berikut ini.

 


HAUL KE 48 BUNG KARNO
“BUNG KARNO: PROKLAMATOR, BAPAK BANGSA DAN PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT INDONESIA”

Blitar, 20 Juni 2018

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Damai Sejahtera,
Om Swastiastu,
Namo Budaya,
Rahayu

PENDAHULUAN

  1. Puji Syukur kehadirat Allah Subhanahu wata’ala bahwa acara haul ke 48 Bung Karno ini dapat dilakukan. Bung Karno wafat dan telah meninggalkan kita semua pada tanggal 21 Juni 1970 yang lampau.
  2. Sebelumnya saya ingin menyampaikan ucapan Selamat Idulfitri 1439 Hijriyah kepada seluruh umat Islam Indonesia dan mohon maaf lahir dan bathin.
  3. Saya sungguh terharu melihat antusiasme rakyat, yang secara sadar dan tulus, telah menempatkan Bung Karno benar-benar di hati sanubarinya. Mereka mencintai Bung Karno karena melihat, dan merasakan bagaimana dedikasi Bung Karno bagi bangsa dan negara baik dalam pemikiran maupun karya perjuangan. Tidak heran, rakyat Indonesia menyebut Beliau sebagai Proklamator, Bapak Bangsa dan penyambung lidah rakyat Indonesia.
  4. Ungkapan syukur saya, khususnya mewakili keluarga besar Bung Karno, karena tradisi haul Bung Karno ini telah hidup begitu lama. Bahkan ketika oleh pemerintahan yang otoriter saat itu, Bung Karno ditempatkan dalam sudut gelap sejarah, antusiasme rakyat tetap tidak dapat dibendung. Saat itu, saya melihat sendiri, bagaimana rakyat bersama dengan keluarga besar Nahdliyin dan keluarga besar Bung Karno, kaum Soekarnois, merayakan haul seperti ini.
  5. Bulan Juni buat Bung Karno memang spesial. Beliau menyampaikan pidato yang kemudian dikenal dan diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945; beliau lahir di Surabaya pada tanggal 6 Juni 1901, dan beliau wafat pada tanggal 21 Juni 1970, dan makamnya berada di tempat ini.
  6. Haul ini bukanlah untuk mengkultus individukan Bung Karno. Sebab sebagai seorang Muslim, beliau sendiri berulang kali menegaskan tidak mau dikultus-individukan. Yang kita kenang dari beliau adalah dedikasi dan pengabdiannya kepada Tuhan, bangsa, dan Negara. Beliau telah menggali Pancasila dari sumber yang paling hakiki, yakni apa yang hidup dalam kesadaran rakyat Indonesia.
  7. NKRI tanpa Pancasila bukanlah NKRI. Untuk itulah, tradisi Haul BK menjadi tradisi kultural dan keagamaan. Saya berterima kasih kepada seluruh masyarakat Jawa Timur, khususnya kepada keluarga besar Nahdliyin, yang bersama-sama dengan kaum Soekarnois telah menjaga tradisi haul ini.

 

NKRI DAN PANCASILA FINAL

Para kyai, bapak ibu dan saudara-saudara sekalian,

  1. Masih terekam kuat dalam benak saya, hubungan yang begitu akrab antara bapak saya, Bung Karno dan para tokoh Islam Nusantara, khususnya KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim dan begitu banyak tokoh Islam lainnya.
  2. Bung Karno sendiri pada dasarnya adalah seorang santri. Beliau belajar dan mendalami Islam sekitar 26 tahun lamanya, dimulai sejak berusia 15 tahun ketika kakek saya Raden Sukemi Sosrodihardjo menitipkan Bung Karno di rumah tokoh Islam HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Beliau juga menjadi santri Kyai Ahmad Dahlan, berguru dengan Kyai Hasyim Asy'ari, Ustadz Ahmad Hassan dan ulama-ilama Islam lainnya.
  3. Banyak juga yang tidak tahu bahwa Bung Karno lah tokoh yang punya gagasan agar ditemukan makam Imam Al Buchori kepada Presiden Uni Soviet dan akhirnya ditemukan di Kota Samarkhan Uzbekistan. Tanpa Bung Karno, tidak akan ada Masjid Biru yang berdiri megah di Rusia.
  4. Beliau pulalah yang mampu menjadi pemimpin yang mensintesiskan nilai-nilai Islam dengan nilai-nilai kebangsaan yang kemudian dikonseptualisasikan dalam Pancasila.
  5. Bung Karno sendiri pada tanggal 14 Maret 1965 dalam Konferensi Islam Asia Afrika mendapat gelar sebagai pahlawan kemerdekaan dan pembebas bangsa Islam.
  6. Bung Karno juga pernah mendapat gelar Waliyul Amri Ad-Dharori Bi Assyaukah (pemimpin pemerintahan di masa darurat yang kebijakan- kebijakannya mengikat secara sah bagi umat Islam dan bangsa Indonesia). Keputusan tersebut disahkan dalam Muktamar NU tahun 1954 di Surabaya, Jawa Timur.
  7. Saya sungguh berbangga atas ketegasan sikap NU bahwa Pancasila dan NKRI adalah final.
  8. Karena itulah ketika kini ada upaya yang membenturkan antara NKRI ber-Pancasila dengan NKRI bentuk lain, maka upaya tersebut adalah ahistoris dan tidak memiliki kesadaran kultural dan ideologis terhadap proses sejarah berbangsa.

 

PENUTUP

  1. Terima kasih atas penyelenggaraan Haul BK yang ke 48 ini. Terima kasih atas gotong royong seluruh masyarakat Jawa Timur sehingga keluarga Nahdliyin dan Soekarnois selalu bergandengan tangan untuk bangsa dan Negara yang kita cintai.
  2. Telah hadir bersama kita KH Said Aqil Sirad, Prof. Mahfud MD, Kiai Nurul Huda Djazuli, Kiai Zainuddin Djazuli, Kiai Anwar Manshur, Kiai Anwar Iskandar, Kiai Miftahul Achyar, Kiai Murawakkil Alallah, Kiai Kafabihi Mahrus, Kiai Fuad Djazuli (para kyai, para menteri Kabinet kerja Pak Jokowi dan juga kader-kader Bung Karno).
  3. Disini hadir juga Saifullah Yusuf dan Puti Guntur Soekarno, dua pemimpin muda penerus tali silaturrahim yang menggambarkan persahabatan sejati antara keluarga besar Nahldiyin dan Bung Karno. Semoga mereka benar-benar menjadi pemimpin rakyat yang amanah.

 

Terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Om santi santi santi om
Namo Budaya
 

MEGAWATI SOEKARNOPUTRI
Presiden Kelima RI / Keluarga Bung Karno

Instagram

Twitter

Facebook