Please wait... X

Berita Kader Utama Harus Mumpuni Jalankan Ideologi Pancasila 1 Juni 1945

PDI Perjuangan, 12/Dec/2017

Kader Utama Harus Mumpuni Jalankan Ideologi Pancasila 1 Juni 1945

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam pidato sambutan pembukaan Pendidikan Kader Utama Badan Pendidikan dan Latihan (Badiklat) menekankan, bahwa seorang Kader Utama harus mumpuni dalam menjalankan ideologi Pancasila. Mumpuni bukan hanya sebatas pintar, namun juga serba bisa untuk mewujudkannya, serta bisa diterima oleh siapa dan dimana saja.

“Bertemu dengan rakyat bisa ngomong, bertemu pejabat juga bisa ngomong, bertemu kalangan intelektual ya bisa ngomong. Tetapi ngomongnya bukan asal ngomong, harus tetap dalam rambu-rambu ideologi,” kata Megawati Soekarnoputri di hadapan ratusan Kader Utama di Wisma Kinasih, Depok, Jawa Barat, Kamis malam, 23 November 2017.

Megawati menjelaskan, Kader Utama yang mumpuni menjalankan ideologi adalah pondasi dari terciptanya partai pelopor. Kalau hanya dilihat dari hasil survei yang melebihi partai-parati lain, PDI Perjuangan sudah layak disebut sebagai partai pelopor. Namun kriterianya bukan hanya sebatas survei saja. Jenjang kaderisasi mulai dari Kader Pratama, kader Madya harus konsisten bertujuan menjadi Kader Utama.

“Mereka yang disebut Kader Utama harus mumpuni di dalam menjalankan ideologi Pancasila,” tegas Ketua Umum PDI Perjuangan tersebut.

Menurut  Megawati, Bung Karno telah memperkenalkan kepada bangsa Indonesia ideologi Pancasila 1 Juni 1945 dan PDI Perjuangan sudah menetapkannya sebagai ideologi dalam kongres Partai.

Buku “Bung Karno, Islam, dan Pancasila” dari disertasi Ahmad Basarah adalah salah satu buku yang wajib dibaca oleh semua kader. Sebagai Ketua Umum sekaligus pendiri PDI Perjuangan, Megawati menerangkan, bahwa yang harus diikuti adalah ideologi dan gagasan-gagasan Bung Karno bukan ideologi yang lain.

“Bukan yang namanya khilafah, bukan yang namanya komunis. Tetapi ideologi kita yang dibuat oleh Bung Karno ketika sebelum kemerdekaan dan disampaikan dalam sidang BPUPK,” jelas Megawati.

Terkait Pancasila sebagai ideologi bangsa yang sedang menghadapi berbagai ancaman, Megawati bersedia menjadi Ketua Dewan Pengarah UKPPIP (Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila). Turun tangan demi Pancasila dan nama Bung Karno sebagai Bapak Bangsa.  

“Buat saya bukan unitnya, tapi Pancasila agar bisa diterangkan dengan jelas. Karena sejak tahun 1965, ketika Bung Karno sebagai Presiden dilengserkan yang secara politik tidak fair, nanti ahli sejarah yang menceritakan, sehingga akhirnya Pancasila lalu dibuat versi sepertinya dikondisikan, ditafsirkan sendiri-sendiri,” jelas Presiden RI ke-5 itu.

Megawati mengutip pemikiran Bung Karno yang menjelaskan bahwa kader adalah otot partai, mata partai, dan otak partai. Otot, karena suatu saat jika bekerja keras harus mempergunakan otot. Kemudian, kader adalah mata partai untuk melihat lingkungan sekitar, apakah kader sudah berbuat lebih bila berada di suatu lingkungan. Otak, artinya kader harus cerdas, pintar. Cerdas berbeda dengan pintar. Orang pintar belum tentu cerdas. Mengapa? Karena bisa saja orang pintar itu penipu, itu tidak cerdas. Orang cerdas pasti tahu karena ia pintar dan ia bisa melawan penipu.

“Dari semua pengalaman saya, sejak dulu ternyata motivasi masuk partai beda-beda, karena datang juga dari lingkungan yang beda-beda. Motivasinya, ‘ah enak itu masuk PDI Perjuangan, rakyat sekarang banyak mendukung, kalau saya mau jadi anggota DPR, paling tidak kemungkinan menangnya bisa besar. Setelah itu nanti cari duit di sana itu gampang’ Itu salah. Motivasi yang salah. Kalau umpamanya seperti itu, maka saya coret bukan Kader Utama, akan turun menjadi anggota biasa saja,” jelas Megawati.

Pendidikan Kader Utama yang diselenggarakan Badiklat DPP PDI Perjuangan berlangsung mulai hari Kamis, 23 November 2017 hingga Rabu, 29 November 2017 dan diikuti oleh ratusan peserta. Tampak hadir dalam acara pembukaan Sekretaris Jenderal Hasto Kristiyanto, Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi Idham Samawi, dan Sekretaris Badiklat Eva Kusuma Sundari. (Pram)  

Instagram

Twitter

Facebook