Ganjar Pranowo: Media Sosial Bisa Menghemat Biaya dan Waktu

Lahir dari rahim rakyat Jelata, Ganjar Pranowo membuktikan dengan kerja keras siapapun bisa menjadi pemimpin. Demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah, ia berusaha membuka pintu komunikasi seluas mungkin melalui media sosial, agar keluhan rakyat bisa segera ditanggapi.

Tweet dari @ganjarpranowo, “cb kamu ngobrol sini den” memantul kepada Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Juliyatmono, @juliyatmonokra dan Rohadi Widodo, @RohadiWidodo. Sebelumnya seorang netizen memberi masukan soal berkurangnya jalur hijau dan median jalan raya. “Bar ngene median jalan dr Palur-Karanganyar Kota juga mau diilangi. Kamu juga setuju boss?!,” mention @Karanganyarmu kepada @ganjarpranowo, Jumat (08/01/2016) lalu.

Begitulah sepenggal komunikasi dengan masyarakat yang dilakukan pemimpin daerah. Meskipun terbatas hanya 140 karakter kata, media sosial (medsos) adalah alternatif pilihan menjembatani kebuntuan informasi dan komunikasi. Siapa netizen tak mengenal @ganjarpranowo di twitter. Pemilik akun ini Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, lebih dari 600 ratusan ribu tweeps telah menjadi pengikut.

Sejak dilantik sebagai Gubernur Jateng pada 23 Agustus 2013 lalu, Ganjar Pranowo gencar memanfaatkan medsos, terutama twitter untuk lebih dekat dengan rakyat dan berkoordinasi dengan jajaran di lingkup Provinsi Jateng. Menurut politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, medsos dapat mengefektifkan waktu, sehingga waktu tidak banyak terbuang dalam kunjungan ke daerah-daerah.

"Saya akan aktif di sosial media, twitter, e-informasi. Jadi, bila kita bisa memanfaatkan teleconference dalam koordinasi, kenapa tidak? Itu akan menghemat biaya," ujar Ganjar, saat acara Pisah Sambut Gubernur dan Wagub Jateng di Wisma Perdamaian, Jumat (23/8/2013) malam seperti dilansir tribunnews.com

Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada periode 2014-2019 ini serius mengajak jajarannya di lingkungan pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih "melek" teknologi informasi. Seperti dijelaskan praktisi medsos A. Sudibyo, berbagai medsos yang ada saat ini bisa dimanfaatkan untuk saling bertukar pendapat ataupun menyampaikan keluhan guna menyelesaikan berbagai masalah yang muncul di Jateng.

"Pemanfaatan media sosial ini dalam berkomunikasi dengan masyarakat dinilai lebih cepat daripada penyampaian keluhan secara konvensional, apalagi dengan wilayah Jateng yang begitu luas dan hal ini juga banyak dilakukan pimpinan daerah di berbagai kota besar di Indonesia, dan nyatanya cukup berhasil," kata praktisi medsos, A. Sudibyo dikutip dari bisnis.com

Pemanfaatan medsos, jelas Sudibyo, memberi banyak keuntungan untuk mengungkap sejumlah permasalahan yang ada dan orang-orang yang ingin menyampaikan keluhannya merasa tidak sungkan atau lebih blak-blakan lewat media sosial.

"Justru kalau bertemu langsung kadang malah minder. Kalau lewat media sosial, apa yang disampaikan lebih apa adanya, baik itu akun asli maupun akun anonim, setidaknya Pak Ganjar bisa mendapat suatu informasi. Pak Ganjar juga membuka pengaduan masyarakat melalui e-mail dan website dengan programnya 'Lapor Gub'," ujarnya.

Bukan hanya dalam penyampaian, dilihat dari respons jajaran pemerintah mulai tingkat provinsi hingga kabupaten/kota juga dinilai lebih cepat melalui media sosial ini, dan Ganjar sudah merangkul pemilik akun-akun di daerah untuk bersama membangun Jawa Tengah.

Dalam Pemilihan Umum Gubernur Jateng tahun 2013, Ganjar berpasangan dengan Heru Sudjatmoko yang diusung oleh PDIP. Ganjar-Heru dikenal dengan tagline mboten korupsi mboten ngapusi  (tidak korupsi tidak menipu) keluar sebagai pemenang dengan total perolehan suara mencapai 48,82 persen.

Suami dari Siti Atikoh Suryani ini, berkoordinasi dengan dinas dan instansi terkait di wilayah Jateng tidak hanya mengandalkan medsos. Ganjar juga tak segan-segan blusukan melakukan pengawasan dan inspeksi mendadak (sidak). Ia pernah sidak dan menangkap basah pungutan liar di jembatan timbang di Subah, Kabupaten Batang pada 27 April 2014 lalu.

Ganjar Pranowo sosok pemimpin daerah yang berasal dari keluarga sederhana. Tempaan kesulitan ekonomi semasa sekolah hingga bangku kuliah sudah biasa ia lakoni. Kondisi itu justru membuatnya ingin selalu memahami suara masyarakat kecil. Saat sang ayah sudah pensiun, Ganjar pernah berjualan bensin eceran untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Kami sekeluarga sudah khatam dengan kesulitan ekonomi seperti ini. Untuk membiayai kuliah saya pernah mengajar soal pecinta alam dengan bayaran hanya enam ribu rupiah. Saya pergi kuliah naik sepeda onthel dan pernah menunggak uang kuliah hingga empat semester,” kata Ganjar kepada Kompas TV (Pram)